Spatial Planning

Spatial Planning

Peta RTRW Kota Malang 2010-2030Penyusunan Masterplan Ruang Terbuka Hijau Kota Malang pada hakekatnya adalah perencanaan strategis untuk mencapai ketentuan minimal 30 % Ruang Terbuka Hijau Kota Malang sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 3, UU no 26 tahun 2007 tentang Penetaan Ruang. Berdasarkan hasil perhitungan kebutuhan Ruang Terbuka Hijau berdasarkan persentase luas wilayah Kota Malang didapat untuk kebutuhan Ruang Terbuka Hijau di kota Malang adalah seluas 3.329,13 Ha dengan rincian Ruang Terbuka Hijau Privat sebesar 1.109,71 Ha sedangkan untuk Ruang Terbuka Hijau Publik adalah 2.219,42 Ha.  Proporsi 30% merupakan ukuran minimal untuk menjamin keseimbangan ekosistem kota, baik keseimbangan sistem hidrologi dan keseimbangan mikroklimat, maupun sistem ekologis lain yang dapat meningkatkan ketersediaan udara bersih yang diperlukan masyarakat, serta sekaligus dapat meningkatkan nilai estetika kota. Target luas sebesar 30% dari luas wilayah kota dapat dicapai secara bertahap melalui pengalokasian lahan kota Malang.

Upaya penting yang harus dilakukan oleh pemerintah Kota yang memiliki tanggung jawab untuk menyediakan minimal 20 % ruang terbuka hijau publik, menuntut keseriusan dan komitmen tinggi pemerintah kota Malang. Keikut sertaan Kota Malang dalam Program Pengembangan Kota Hijau, patut diapresiasi, akan tetapi hal yang lebih penting adalah bagaimana langkah-langkah kongrit yang dilakukan, bukan hanya menyusan produk-produk perencanaan dan regulasi saja, tetapi upaya kongkrit harus diwujudkan. Keterlibatan stakeholder melalui pendekatan partisipatif menjadi penting untuk dilakukan. Bahkan saat ini sedang mengemuka konsep keterlibatan PENTAHELIX atau peranserta lima stakeholder;  Pemerintah, Swasta, Komunitas, Akademisi dan Media Masa dalam pelaksanaan program-program dan kebijakan yang bersentuhan dengan domain publik menjadi penting dilakukan. 

Kebijakan dan Strategi Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau. 

Kebijakan penyediaan dan pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kota Malang ditujukan untuk kelestarian, keserasian dan keseimbangan ekosistem perkotaan yang meliputi unsur lingkungan sosial dan budaya. Penyediaan dan pemanfaatan fungsi Ruang Terbuka Hijau kota sebagai upaya untuk memperbaiki, menjaga iklim mikro, nilai estetika, meresapkan air, menciptakan keseimbangan dan keserasian lingkungan fisik kota. Untuk mewujudkan hal tersebut di atas, maka pada setiap wilayah perkotaan perlu ditetapkan kawasan Ruang Terbuka Hijau sesuai dengan tata guna lahan dan sektor tertentu, dalam rangka penyelenggaraan Ruang Terbuka Hijau kota secara menyeluruh. Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau sejak awal, yaitu dari proses penunjukan, pembangunan, penetapan, pemeliharaan merupakan pengelolaan menyeluruh (integratif) yang disesuaikan dengan fungsi pokok Ruang Terbuka Hijau kota tersebut yaitu antara lain untuk perlindungan lingkungan kota. Keberadaan Ruang Terbuka Hijau sangat penting dalam mengendalikan dan memelihara integritas dan kualitas lingkungan. Pengendalian pembangunan wilayah perkotaan harus dilakukan secara proporsional dan berada dalam keseimbangan antara pembangunan dan fungsi-fungsi lingkungan.

 

Kota Malang merupakan kota dengan Orde P-3 di Propinsi Jawa Timur, dengan luas wilayah sebesar 11.006 Ha. Jumlah Penduduk Kota Malang sebesar 897,136 Jiwa (data 2018. Wilayah administrative kota Malang terdiri dari 5 Kecamatan; Kecamatan Klojen, Blimbing, Kedungkandang, Lowokwaru, dan Kecamatan Sukun, yang dapam perencanaan akan dilakukan pemekaran wilayah kecamatan. Berdasarkan jumlah penduduk Kota Malang dengan jumlah penduduk kurang dari 1.000.000 Jiwa maka Kota Malang tergolong dalam kategori kota besar, yang berpotensi menjadi kota Metropolitan dengan jumlah penduduk yang lebih besar.

Struktur pelayanan Kota Malang dalam RTRW hingga 2030 sesuai dengan penetapan kegiatan fungsional Kota Malang, telah ditetapkan Pusat Kota dan Pusat Pelayanan Kota. Pusat Kota dan Pusat Pelayanan kota Malang untuk setiap Satuan Wilayah pengembangan adalah sebagai berikut:

  1. Pusat Pelayanan Kota Malang Tengah; Meliputi wilayah Kecamatan Klojen, dengan Pusat Pelayanan Kota di kawasan Alun-alun dan sekitarnya. Sub Pusat Pelayanan Kota Malang Tengah berada di Oro-oro Dowo.
  2. Pusat Pelayanan Malang Utara; Meliputi wilayah kecamatan Lowokwaru, dengan Pusat Pelayanan Kota berada di Dinoyo, Pasar dinoyo dan sekitarnya. Sub Psat Pelayanan Kota terletak di Taman Krida Budaya, Griyashanta dan sekitarnya. Pusat Pelayanan Kota Malang Utara terletak di 2 Kecamatan denga pusat lingkungan di masing-masing kelurahan.
  3. Pusat Pelayanan Kota Malang Timur Laut; Meliputi wilayah sebagian Kecamatan Blimbing, dengan Pusat Pelayanan Kota berada di sekitar Pasar Blimbing, Jln. L.A. Sucipto dan sekitarnya. Sub Pelayanan Kota Terdiri dari 2 yaiut Sub pusat I terletak di Plaza Araya dan sekitarnya dan Sub pusat II di terminal Arjosari, VEDC dan sekitarnya. Selain Sub Pusat Pelayanan Kota terdapat Juga Pusat Lingkungan yang terletah di Kelurahan Balearjosari.
  4. Pusat Pelayanan Kota Malang Timur; Meliputi wilayah sebagian Kecamatan Kedungkandang dan sebagaian wilayah kecamatan Blimbing, dengan Pusat Pelayanan Kota di Kawasan Perumahan Sawojajar. Sub Pusat Pelayanan Kota terletak di Kawasan sekitar Vellodrome dan perumahan Buring. Pusat-pusat lingkungan terletah di masing-masing kelurahan.

Ruang Terbuka Hijau Kota Malang terdiri dari Ruang Terbuka Hijau publik maupun privat, yang memiliki beberapa fungsi utama seperti fungsi ekologis serta fungsi tambahan, yaitu sosial budaya, ekonomi, estetika/arsitektural. Khusus untuk Ruang Terbuka Hijau dengan fungsi sosial seperti tempat istirahat, sarana olahraga dan atau area bermain, maka Ruang Terbuka Hijau ini harus memiliki akse sibilitas yang baik untuk semua orang, termasuk aksesibilitas bagi penyandang cacat. Ruang Terbuka Hijau yang ada di kota malang berupa Hutan Kota, Taman, Makam, Lapangan Jalur Hijau Jalan, Sempadan Sungai, Sempadan Rel Kereta Api dan Sempadan Saluran Utama Tegangan Tinggi serta beberapa jalur hijau jalan seperti median dan boulevard jalan. 

 

Kota Malang, adalah sebuah kota yang terletak di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kota ini berada di dataran tinggi yang cukup sejuk, terletak 90 km sebelah selatan Kota Surabaya, dan wilayahnya dikelilingi oleh Kota Malang. Malang merupakan kota terbesar kedua di Jawa Timur, dan dikenal dengan julukan ''kota pelajar''. Terletak pada ketinggian antara 440 – 667m dpl, serta terletak pada posisi 112,06-112.07 Bujur Timur dan 7,06 - 8,02 Lintang Selatan, dengan dikelilingi gunung-gunung : Gunung Arjuno di sebelah Utara, Gunung Tengger di sebelah Timur, Gunung Kawi di sebelah Barat, dan Gunung Kelud di sebelah Selatan. Kota Malang memiliki luas 110.06 Km2. 

Di Kota Malang dilalui oleh 5 (lima) sungai besar yaitu : Sungai Brantas, Sungai Amprong, Sungai Bango,  Sungai Metro dan Sungai Sukun (Saluran Irigasi Primer). Sedangkan untuk Daerah Aliran Sungai (DAS) terbagi menjadi lima bagian, yaitu: DAS Metro, DAS Sukun, DAS Brantas, DAS Bango dan Sub DAS Amprong. Wilayah drainase makro meliputi:

  1. Daerah Aliran Sungai Metro, melayani tangkapan air hujan di Malang Barat 
  2. Daerah Aliran Sungai amprong, melayani tangkapan air hujan di Malang Tengah dan Malang Barat Laut 
  3. Daerah Aliran Sungai Sukun, melayani tangkapan air hujan di Malang Tengah 
  4. Daerah Aliran Sungai Amprong, melayani tangkapan air hujan di Malang Tenggara.
  5. Daerah Aliran Sungai Bango, melayani tangkapan air hujan di Malang Timur Laut

Keberadaan kelima DAS tersebut di atas, dalam Masterplan Ruang Terbuka Hijau Kota Malang ditetapkan sebagai koridor ruang terbuka hijau kota. Ruang sepanjang DAS ini menjadi potensi substitusi Ruag Terbuka Hijau Kota, apabila pada daerah aliran sungai tersebut dilakukan revitalisasi dan dikembalikan kembali fungsi utamanya sebagai green belt, sekaligus menunjang peningkatan kualitas air sungai yang bersangkutan. Luas total potensi RTH sepanjang sempadan Aliran sungai adalah seluas 1102,43 Ha atau sebesar 11,41 % luas existing RTH Kota Malang.  Perencanaan ruang sepanjang daerah aliran sungai tersebut seharusnya ditetapkan sebagai daerah Blue Space. Gambar disamping menunjukkan adanya potensi pengembangan Ruang Terbuka Hijau koridor DAS Brantas yang menghadapi ancaman pengalihan fungsi menjadi kawasan terbangun seperti di area sekitarnya.  

Kebijakan dan strategi pengembangan kawasan lindung

Kebijakan dan strategi pengembangan kawasan lindung meliputi langkah-langkah untuk memelihara dan mewujudkan kelestarian fungsi lingkungan hidup dan mencegah timbulnya kerusakan lingkungan hidup. Kriteria dan pola pengelolaan kawasan kindung berdasarkan persyaratan sebagai berikut:

  1. Kawasan lindung untuk sempadan sungai; Garis sempadan sungai bertanggul ditetapkan dengan batas lebar sekurang-kurangnya 5 meter disebelah luar sepanjang kaki tanggul. Garis sempadan sungai tidak bertanggul ditetapkan berdasarkan pertimbangan teknis dan sosial ekonomis oleh pejabat yang berwenang. Garis sempadan yang bertanggul dan tidak bertanggul yang berada di wilayah perkotaan dan sepanjang jalan ditetapkan tersendiri oleh pejabat yang berwenang.
  2. Kawasan lindung untuk kawasan terbuka hijau kota; Lokasi sasaran terbuka hijau kota termasuk didalamnya hutan kota antara lain; di kawasan permukiman, industri, tepi sungai, jalan yang berada di kawasan perkotaan. Hutan yang terletak di dalam wilayah perkotaan atau sekitar kota dengan luas hutan minimal 0,25 Ha. Jenis tanaman untuk hutan kota adalah tanaman tahunan berupa pohon- pohonan bukan tanaman hias atau herba, dari berbagai jenis baik jenis asing atau eksotik maupun etnis asli domestik.
  3. Kawasan rencana bencana alam; Mempertahankan ruang terbuka hijau yang berfungsi sebagai resapan air, sehingga run off dari air hujan berkurang karena terjadinya peresapan. Pada kawasan-kawasan permukiman padat khususnya di Kecamatan Klojen diharapkan membuat sumur resapan yang disesuaikan dengan kebutuhan sehingga meskipun lahan didominasi dengan tutupan bangunan tapi masih bisa meresapkan air, selain itu bisa juga dilakukan dengan metode biopori. Pemeliharaan dan normalisasi saluran drainase dengan mengangkat sedimen dan sampah yang ada di saluran, untuk semua saluran drainasiInventarisasi saluran-saluran yang berfungsi ganda sebagai saluran drainase dan saluran irigasi. Sosialisasi kepada masyarakat untuk hidup sehat dan memelihara lingkungannya diantaranya dengan tidak membuang sampah ke sungai/saluran air serta tidak mendirikan bangunan di atas sempadan sungai atau jaringan drainase.
  4. Kawasan lindung untuk cagar budaya dan ilmu pengetahuan; Merupakan tempat serta ruang disekitar bangunan bernilai budaya tinggi, situs purbakala dan kawasan dengan bentukan geologi tertentu yang emmpunyai manfaat tinggi untuk pengembangan ilmu pengetahuan.

Adapun strategi yang diperlukan dari kebijakan pengembangan kawasan lindung di Kota Malang adalah sebagai berikut: (1) Strategi pemantapan kawasan lindung mutlak ini adalah menjaga dan mengembalikan fungsi kawasan, sedangkan pada kawasan yang telah digunakan tidak direkomendasikan untuk ditingkatkan; (2) Kawasan lindung mutlak harus menjadi kawasan lindung sedangkan kegiatan atau aktifitas manusia yang diijinkan hanya sebatas menikamti pemandangan alam dan pos informasi wisata dan perlindungan kawasan saja, atau memiliki kepentingan fungsi strategis; (3) Strategi pemantapan kawasan resapan air ini adalah pemantapan kawasan sebagai area yang mampu menjaga kelestarian sumberdaya air dengan tidak mengijinkan perubahan fungsi kawasan; (4) Peningkatan daya dukung sumber air dilakukan dengan meningkatkan populasi vegetasi di kawasan lindung mutlak sesuai dengan fungsi kawasan; (5) Pemanfaatan kawasan lindung wilayah perkotaan dilakukan melalui pemanfaatan kawasan-kawasan tersebut untuk kegiatan jalur hijau dan ruang terbuka hijau.

Pengembangan kawasan budidaya

Pengembangan kawasan budidaya ini perlu ditunjang oleh adanya strategi terhadap keseimbangan perkembangan dan keserasian lingkungan yang ditunjang oleh pembangunan infrastruktur untuk meningkatkan dan mempermudah kegiatan perekonomiaan. Maka strategi yang perlu dilakukan dalam rangka pemanfaatan kawasan budidaya di Kota Malang adalah sebagai berikut:

  1. Pengembangan dan pembangunan infrastruktur yang akan menunjang pemanfaatan kawasan budidaya perlu dilakukan agar dalam pemanfaatan kawsan budidaya tersebut dapat memberikan hasil yang optimal,
  2. Pemanfaatan kawasan budidaya yang ada perlu disesuaikan dengan kondisi fisik yang mendukungnya,
  3. Pemanfaatan kawasan budidaya yang lokasinya berdekatan dengan kawasan lindung perlu pengawasan yang cukup ketat, 
  4. Pemanfaatan kawasan budidaya dilakukan sebesar-besarnya untuk kepentingan masyarakat,
  5. Pemanfaatan kawasan budidaya diharapkan tidak mengganggu ekosistem yang ada.

Dalam rangka penyempurnaan dan meningkatkan kemanfaatannya, Peneliti membuka pertanyaan dan saran bagi pembaca,

Silahkan Klik ke Kontak Peneliti disini.