Partisipasi Masyarakat

Partisipasi Masyarakat

Konsep desain kota hijau sebagai wujud lingkungan kota mikro kini menjadi isu global. Konsep Kota Hijau merupakan salah satu jawaban atas keprihatinan urbanisasi kota-kota besar dunia yang telah menyebabkan daya dukung lingkungan perkotaan berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Kota Hijau dipahami sebagai jawaban yang mengedepankan aspek pertimbangan kelestarian lingkungan dalam menyelesaikan permasalahan perkotaan. Prinsip utama desain kota hijau pada dasarnya adalah upaya desain kota dengan menciptakan lingkungan yang menjamin fungsi ekologis kota. Beberapa prinsip utama yang harus dipenuhi meliputi:

  1. Pendekatan perencanaan dan desain kota terhadap desain hijau dilakukan dengan keputusan yang menempatkan perencanaan dan desain kelestarian lingkungan ke dalam orientasi utama.
  2. Infrastruktur perkotaan dan menghilangkan penggunaan energi, dan meminimalkan polusi. Misalnya penggunaan angkutan umum massal yang terintegrasi, serta pengelolaan sanitasi dan infrastruktur pengelolaan sampah yang terintegrasi dan efisien.
  3. Menyediakan ruang publik dan / atau ruang terbuka hijau yang memadai, sehingga kualitas iklim mikro perkotaan dapat terjaga. Audit kualitas lingkungan (tanah, air, udara) dilakukan untuk memastikan kualitas lingkungan hidup yang berkualitas.
  4. Pemerintah kota harus mampu memberikan pelayanan publik yang berkualitas dan berkomitmen, serta memiliki kebijakan nyata tentang upaya pelestarian lingkungan untuk kota yang berkelanjutan. Tata kelola yang baik dalam pengelolaan lingkungan perkotaan merupakan salah satu kebutuhan dalam “mewujudkan” kota yang ekologis (eco-city). 

Penerapan kota hijau seperti dijelaskan di atas, di Indonesia masih membutuhkan jalan yang panjang untuk bisa direalisasikan. Berdasarkan pengalaman beberapa kota di Indonesia ini, peran pemerintah kota memiliki peran yang sangat besar dalam upaya mewujudkan atau mewujudkan kota ekologis. Hal tersebut juga ditunjukkan oleh pengalaman beberapa kota di dunia dalam upaya penyelamatan lingkungan kota. Belajar dari pengalaman beberapa negara dalam upaya penyelamatan lingkungan seharusnya tidak dilakukan dengan cara ekstrim dengan pembiayaan yang besar. Yang penting adalah upaya peningkatan kualitas dalam lingkungan yang berkelanjutan dengan menjaga keseimbangan antara ekonomi, sosial dan lingkungan secara terintegrasi dan berkelanjutan. 

Partisipasi masyarakat dalam penyediaan RTH memiliki potensi yang sangat besar. salah satu bentuk parstisipasi masyarakat adalah peran swasta damal penyediaan dana alternatif untuk pembiayaan pengembangan RTH melalui CSR. Partisipasi masyarakat dapat dilakukan melalui proses perencanaan dan perancangan, implementasi rancangan, bahkan pembiayaan melalui pemberian dana CSR. Partisipasi pemangku kepentingan melalui CSR merupakan bentuk partisipasi masyarakat dengan menyediakan dana pembangunan baik dari dunia usaha maupun individu masyarakat.

Pendekatan ecologis (ecological approach) dan pendekatan partisipatorik (community participation approach) dalam penyediaan Ruang Terbuka Hijau Kota dapat menjamin keberlajutan pembangunan perkotaan. Pendekatan ekologis diperlukan untuk menjamin keberlanjutan dari sisi konservasi sumberdaya, kualitas sumber daya alam serta keharmonisan antara built environment dengan natural environment. Pendekatan partisipatif bertujuan untuk menjaga keseimbangan sosial (social equality), menghindarkan konflik-konflik kepentingan serta menjamin keberlanjutan pengelolaan dan pemanfaatan RTH sebagai ruang publik.